Refleksi
Keempat (Pertemuan Ke tujuh)
Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Refleksi
keempat dari mata kuliah filsafat di dasarkan pada materi filsafat pada
pertemuan ketujuh pada hari rabu 18 Oktober 2017. Pembelajaran filsafat pada pertemuan kali ini
dimulai dengan tes jawaban singkat bagian kedua sebanyak 25 soal yang diajukan
oleh bapak Prof. Dr Marsigit, M.A. Hasil tes jawab singkat tersebut memberikan
pelajaran bahwa kita tidak boleh gengsi dengan hasil yang diperoleh dari jeri
payah sendiri karena hal tersebut merefleksikan kemampuan kita, dan hasil
tersebut merupakan landasan yang kuat untuk kita harus tetap belajar, belajar
dan belajar dengan membaca, membaca dan membaca. Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan
dengan sesi tanya jawab antara mahasiswa dan bapak Prof.Dr. Marsigit, M.A.
berikut beberapa pertanyaan dan jawaban dari pertemuan ke tujuh:
M.Sabri
: Sejauh mana ibadah itu mempengaruhi pikiran, hati dan tindakah kita?
Prof.Dr. Marsigit, M.A:
Ibadah adalah breakdown dari aturan,
dan orang yang melaksanakan aturan, dikatakan taqwa. Kegiatan manusia yakni ibadah
adalah bayangan dari aturan. Melalui bayangan sudah dapat dilihat bagaiman karakter
seseorang tersebut. Orang yang tidak memiliki bayangan maka matilah orang
tersebut, namun ornag matipun masih ada bayangan yakni ke surge atau neraka. Sebenar-benar
dunia adalah berherarki atau struktur dan yang mendasari hierarki ini adalah
spirutualistas.
Mbak Indah:
Tuhan menciptakan sesuatu tanpa ada hikmanyanya, mengapa tuhan mengambil akal
seseorang sehingga dia gila?
Prof. Dr.Marsigit, M.A:
Gila, merusak, bertempur dan berperang , malaikatpun tidak tahu. Malaikat
berkata “ Wahai Tuhan mengapa engkau ciptakan manusia padahal manusia akan
merusak dunia “. Tuhan menjawab “Aku lebih tahu dari pada dirimu”.
Mbak Kartika Kirana
: Apakah yang membuat orang bermimpi dan temanya macam-macam? Apakah kita
berfikir saat bermimpi dan dapatkan kita mengendalikannya?
Prof. Dr.Marsigit, M.A:
Hal itu yang dialami rene de cartes, dia
hidup di daerah yang setiap bulannya bersalju, maka keadaan tersebut dapat mempengaruhi
hidup dan mempengaruhi mimpinya. Suatu ketika dia bermimpi dan tidak mampu
membedakan bahwa yang dialaminya adalah mimpi atau kenyataan karena mimpinya
terlalu mengesankan. Dia ingin menjawab pertanyaan tersebut hinga dia
mempertanyakan keberadaan Tuhan dan bertanya “Apakah Tuhan mampu menjawab
pertanyaan saya?”. Dia membantah adanya Tuhan untuk mencari Tuhan. Contoh ada
pohon bergerak, tetapi dalam mimpi juga ada pohon bergerak. Suatu ketika ia
ingin mecari jawaban bahwa hal ini nyata atau bukan. Ketika dia berpikir bahwa
dia bertanya tentang mimpi maka dia sedang tidak bermimpi. Rene de cartes
bertakata “karena aku sedang bertanya , maka aku nyata, aku ada” .
Mbak Evi : Melihat antara Indonesia dan Malaysia, Indonesia tidak mendapat apa-apa karena yang mengelola adalah malaysia. Jika di ibaratkan Bapak yang tidak tahu bapaknya atau anak yang tidak tahu Bapaknya?
Prof. Dr.Marsigit, M.A:
Alat dalam bersifat adalah bahasa, obyeknya adalah yang ada dan yang mungkin
ada. Obyeknya berstruktur yakni obyek ontologis, obyek formal adalah adalah
obyek material dan obyek formal. Bahasa filsafat adalah bahasa analog. Analognya
orang awam adalah pengandaian. Analog lebih tinggi dari kiasan. Dan tingkatan
paling tinggi adalah metafisik. Jika
berkata hati maka dapat bermakna Tuhan, jika berkata langit bisa
bermakna hati, jika berkata pikiran maka bisa bermakna dunia. Selain manusia hanya
pikirkan maka itu urusan dunia dan diragukan sampainya hal itu kepada Tuhan ,
karena sesungguhnya menggapai Tuhan itu dengan menggunakan hati. Maka jangalah
hanya mengandalkan pikiran, karena setinggi-tinggi pikiran hanya urusan dunia,
dan Tuhan ada di langit. Jika ditanya “Tuhan kan ada di bumi juga”, maka hal
itu kita terjemahkan, ketika berada pada tatanan tertinggi maka manusia tahu
bahwa aturan-aturan dapat bersifat kontraduksi. Seperti mengapa Tuhan
menciptakan banyak agama. Hal tersebut bukanlah domain pikiran tetapi domain
kepercayaan masing-masing. Jangan
bermain-main dan berkata mitos untuk masalah spiritual. Spiritual adalah
keyakinan. Sebenar-benar mitos berdasar
operasional pendidkan adalah ketika mengerjakan sesuatu namun tidak mengerti
apa maksud adari apa yang kita kerjakan.
Refleksi berdasarkan kempat bertanyaan diatas bahwa
ketika manusia bertanya maka sesungguhnya dia nyata dan ketika dia nyata maka
dia ada. Dari hal ini kami belajar bahwa menjadi orang-orang pilihan yang diberi
kesempatan oleh Tuhan ini, kita harus benar-benar hidup, dan bukan menjadi
mayat yang berjalan. Hidup dengan tidak sekedar hidup namun, juga hidup secara
spiritual. Hidup dengan mensyukuri segala nikmat Tuhan, seperti halnya manusia
telah diberi akal oleh karenanya akal tersebuh hendaknya digunakan dengan
sebermanfaat mungkin dan memberikan manfaat kepada orang lain. Contoh nya
dengan belajar dan berpositif thingking(husnudhon). Seperti yang dijelaskan
oleh bapak Prof.Dr. Marsigit, M.A bahwa jika hanya berpikir maka itu adalah urusan
dunia, agar apa yang kita pikirkan dapat bermanfaat dan diterima Tuhan maka
harus di imbangi dengan hati. Seperti contohnya dalam mencari ilmu (kuliah atau
sekolah) maka manusia harus dilandasi dengan niat yang benar. Dalam memasak, ketika
Ibu memasak maka Ibu berpikir makanan apa yang disukai semua anggota keluarga
dan bagaimana mengatur komposisi dan bumbu agar masakan lezat, jika
dilihat-lihat memasak ini adalah perkara dunia, namun memasak ini bisa sampai
Tuhan dan menjadi amal akhirat jika diiringi niat dalam hati bahwa dengan
memasak, menyediakan makanan untuk seluruh anggota keluarga menjadikan makanan tersebut sebagai jalan (wasilah) agar setiap anggota keluarga kuat dalam beribadah dan tidak merasa kelaparan.
Terima Kasih.
Wasalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Arina Husna
Zaini
17701251024
PEP S2 B
*Mohon maaf jika ada
tulisan yang tidak sesuai dan berkenan , Mohon masukan dan sarannya. ^_^
0 komentar:
Posting Komentar