Rabu, 18 Oktober 2017

Manusia Sebagai Hakikat yang Memiliki Potensi

Reflesi Bagian Kedua (Pertemuan Kelima)

Bismillahirrahmanirahim
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirobbil ‘alamin. Tulisan ini merupakan refleksi bagian kedua mata kuliah filsafat ilmu yakni tepatnya pada pertemuan kelima hari rabu , 4 oktober 2017. Pada pertemuan kali ini formasi duduk masa seperti pertemuan pertama yakni dengan formasi leter U. Penggunaan formasi ini tentunya mengundang daya tarik dan pertanyaan, dan kami hanya dapat menerka-nerka bahwa tujuan formasi ini tentunya memberikan manfaat dan keuntungan agar mahasiswa dapat menyimak dan memahami apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
            Lepas dari hal itu, pada pertemuan kali ini perkuliahan diawali dengan berdoa, sebagai bentuk komunikasi mahasiswa sebagai manusia dengan Tuhannya, karena seperti dijelaskan oleh Prof. Marsigit bahwa landasan berfilsafat adalah spiritual dan menurut kami bahwa berdoa adalah salah satu cara untuk menjaga keseimbangan hati agar tidak kacau. Setelah berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Pembelajaran dan diskusi filsafat ilmu dimulai dengan bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A memberikan pertanyaan filsafat sebanyak 25 poin yakni meliputi anda itu apa?, anda itu siapa?, anda itu mana?, anda dari mana?, anda mau kemana?, anda sedang apa,? Anda dengan siapa?, anda itu mengapa? Anda sedang memikir apa?, anda asalnya dari mana? Dan lain sebagainya. Jika dilihat dan ditelisik bahwa pertanyaan pertanyaan tersebut sangat singkat namun, membingungkan orang untuk menjawabnya. Oleh karena itu, pada tes jawaban singkat kali ini dari 19 mahasiswa hanya 3 orang yang memperoleh skor tidak nol yakni skor = 4 atau benar 1 nomor.
            Melihat skor tes jawaban singkat yang masih banyak mendapatkan nol bapak Prof. Marsigit menjelaskan bahwa  mendapat nol merupakan berkah, sebab belajar filsafat harus belajar dari nol, jika di awal tes sudah mendapatkan 90 akan membuat manusia menjadi sombong dan tidak bisa belajar filsafat. Skor nol yang diperoleh meruntuhkan ego manusia. Dalam berfilsafat semakin bingung semakin baik. Semakin tidak bisa semakin baik semakin tidak bisa semakin baik. Menanggapi penjelasan beliau ini ia memang benar bahwa manusia cenderung akan belajar ketika mereka membutuhkan sesuatu hal dalam hidupnya, jika manusia telah memiliki kemampuan dan kembali belajar mengenai hal yang dikuasainya maka sebagai manusia yang kadang memiliki rasa khilaf dan lupa akan cenderung sombong dan membanggakan diri karena merasa memiliki kemampaun di atasa temannya yang lain. Oleh karena itu, merefleksi dari pertanyaan-pertanyaan dari Prof. Dr Marsigit dan melihat skor kami, maka kami masih kurang persiapan bahan dalam diskusi, masih banyak yang perlu di pelajari, pelajari,dan pelajari, baca, baca dan baca.
            Selanjutnya beliau menerangkan bahwa filsafat memiliki tiga pilar yakni pilar hakikat, pilar metode dan pilar manfaat. Orang berifkir dan berfilsafat tentang hakikat dan manfaatnya. Kembali pada pertanyaan singkat bahwa anda sebagai manusia adalah potensi, yakni potensi tetap dan berubah atau potensi takdir dan ikhtiar atau potensi fatal atau fital. Apapun yang telah terjadi adalah takdir. Maka bagi orang-orang yang beriman adalah potensi takdir, bagi orang beriman takdir adalah yang terbaik. Pentingnya iman yakni ketika ada kematian itulah yang terbaik, jika tidak beriman hidup adalah kacau hidupnya. Orang beriman mengatakan walau ditembak. Kematian adalah takdir dari Tuhan apalagi ketika sudah dilalui. Sebenar-benar masa lalu adalah kodrat atau takdir. Sedangkan takdir atau kodrat adalah yang terpilih.
            Berdasarkan penjelasan Prof. Dr. Marsigit memberikan pencerahan bagi kami bahwa sebelum belajar filsafat kami melihat berbagai orang yang belajar dijurusan filsafat bahwa perilaku mereka terkadang aneh dan membingungkan dan paling parahnya adalah mereka (istilah kasarnya) menjauh dari Tuhan seperti tidak sholat, dan lain sebagianya. Berdasarkan itulah sebelum belajar filsafat kami merasa bahwa mata kuliah ini sangat misterius karena kami masih menerka-nerka apa yang dipelajari sehingga ada orang yang tidak melaksanakan perintah Tuhannya. Namun, dengan mengikuti perkuliahan filsafat ilmu dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A memberikan sudut pandang, pemahaman dan percerahan bagi kami bahwa dalam belajar filsafat diperlukan kesiapan dan konsentrasi, kepasrasan dan keikhlasan serta keimanan kepada Tuhan. Khususnya pada pertemuan kali ini membahan tentang manusia sebagai hakikat yang memiliki potensi dan potensi ini tidak terbatas, banyak potensi yang dimiliki oleh manusia dan tugas manusia adalah mengembangkan potensi sesuai ruang dan waktunya. Spiritual sebagai landasan berfilsafat merupak sebagai pedoman dan pijakan agar menusia tidak lepas kendali dalam mengembangkan potensinya, karena sesunggunya dengan tidak adanya spiritual yang ditandai dengan keimanan maka manusia berfilsafat dengan kekacuan hati yang pada pertemuan pertama dijelaskan beliau sebagai godaan dari syaitan.
Dengan memberlajari filsafat dari pertemuan pertama dan pertemuan kelima ini menyadarkan kami bahwa landasan spiritual yang dilakukan dengan beriman adlah hal yang sangat penting. Selain itu, manusia meluangkan waktu bermuhasabah untuk memikirkan apa dirinya siapa dirinya dan berbagai pertanyaan yang telah disampaikan Prof.Dr Marsigit, M.A guna sebagai bahan evaluasi diri untuk menjadi manusia berakhlaq karimah dan dapat bermanfaat bagi makhluk Tuhan lainnya. Ketika hubungan manusia baik dengan Tuhannya maka InyaAllah, Tuhan akan memberikan hal yang terbaik bagi hambanya. Terima Kasih
Wasalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.



0 komentar:

Posting Komentar