Reflesi Bagian Kedua (Pertemuan
Kelima)
Bismillahirrahmanirahim
Assalamualaikum Warrahmatullahi
Wabarakatuh
Alhamdulillahirobbil ‘alamin.
Tulisan ini merupakan refleksi bagian kedua mata kuliah filsafat ilmu yakni
tepatnya pada pertemuan kelima hari rabu , 4 oktober 2017. Pada pertemuan kali
ini formasi duduk masa seperti pertemuan pertama yakni dengan formasi leter U.
Penggunaan formasi ini tentunya mengundang daya tarik dan pertanyaan, dan kami
hanya dapat menerka-nerka bahwa tujuan formasi ini tentunya memberikan manfaat
dan keuntungan agar mahasiswa dapat menyimak dan memahami apa yang disampaikan
oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Lepas dari hal itu, pada pertemuan kali
ini perkuliahan diawali dengan berdoa, sebagai bentuk komunikasi mahasiswa sebagai
manusia dengan Tuhannya, karena seperti dijelaskan oleh Prof. Marsigit bahwa
landasan berfilsafat adalah spiritual dan menurut kami bahwa berdoa adalah
salah satu cara untuk menjaga keseimbangan hati agar tidak kacau. Setelah
berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Pembelajaran dan diskusi filsafat ilmu
dimulai dengan bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A memberikan pertanyaan filsafat
sebanyak 25 poin yakni meliputi anda itu apa?, anda itu siapa?, anda itu mana?,
anda dari mana?, anda mau kemana?, anda sedang apa,? Anda dengan siapa?, anda
itu mengapa? Anda sedang memikir apa?, anda asalnya dari mana? Dan lain
sebagainya. Jika dilihat dan ditelisik bahwa pertanyaan pertanyaan tersebut
sangat singkat namun, membingungkan orang untuk menjawabnya. Oleh karena itu,
pada tes jawaban singkat kali ini dari 19 mahasiswa hanya 3 orang yang
memperoleh skor tidak nol yakni skor = 4 atau benar 1 nomor.
Melihat skor tes jawaban singkat
yang masih banyak mendapatkan nol bapak Prof. Marsigit menjelaskan bahwa mendapat nol merupakan berkah, sebab belajar
filsafat harus belajar dari nol, jika di awal tes sudah mendapatkan 90 akan
membuat manusia menjadi sombong dan tidak bisa belajar filsafat. Skor nol yang
diperoleh meruntuhkan ego manusia. Dalam berfilsafat semakin bingung semakin
baik. Semakin tidak bisa semakin baik semakin tidak bisa semakin baik.
Menanggapi penjelasan beliau ini ia memang benar bahwa manusia cenderung akan
belajar ketika mereka membutuhkan sesuatu hal dalam hidupnya, jika manusia
telah memiliki kemampuan dan kembali belajar mengenai hal yang dikuasainya maka
sebagai manusia yang kadang memiliki rasa khilaf dan lupa akan cenderung
sombong dan membanggakan diri karena merasa memiliki kemampaun di atasa
temannya yang lain. Oleh karena itu, merefleksi dari pertanyaan-pertanyaan dari
Prof. Dr Marsigit dan melihat skor kami, maka kami masih kurang persiapan bahan
dalam diskusi, masih banyak yang perlu di pelajari, pelajari,dan pelajari, baca,
baca dan baca.
Selanjutnya beliau menerangkan bahwa
filsafat memiliki tiga pilar yakni pilar hakikat, pilar metode dan pilar
manfaat. Orang berifkir dan berfilsafat tentang hakikat dan manfaatnya. Kembali
pada pertanyaan singkat bahwa anda sebagai manusia adalah potensi, yakni potensi
tetap dan berubah atau potensi takdir dan ikhtiar atau potensi fatal atau
fital. Apapun yang telah terjadi adalah takdir. Maka bagi orang-orang yang
beriman adalah potensi takdir, bagi orang beriman takdir adalah yang terbaik. Pentingnya
iman yakni ketika ada kematian itulah yang terbaik, jika tidak beriman hidup
adalah kacau hidupnya. Orang beriman mengatakan walau ditembak. Kematian adalah
takdir dari Tuhan apalagi ketika sudah dilalui. Sebenar-benar masa lalu adalah
kodrat atau takdir. Sedangkan takdir atau kodrat adalah yang terpilih.
Berdasarkan penjelasan Prof. Dr.
Marsigit memberikan pencerahan bagi kami bahwa sebelum belajar filsafat kami
melihat berbagai orang yang belajar dijurusan filsafat bahwa perilaku mereka
terkadang aneh dan membingungkan dan paling parahnya adalah mereka (istilah
kasarnya) menjauh dari Tuhan seperti tidak sholat, dan lain sebagianya.
Berdasarkan itulah sebelum belajar filsafat kami merasa bahwa mata kuliah ini
sangat misterius karena kami masih menerka-nerka apa yang dipelajari sehingga
ada orang yang tidak melaksanakan perintah Tuhannya. Namun, dengan mengikuti
perkuliahan filsafat ilmu dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A memberikan sudut pandang,
pemahaman dan percerahan bagi kami bahwa dalam belajar filsafat diperlukan
kesiapan dan konsentrasi, kepasrasan dan keikhlasan serta keimanan kepada
Tuhan. Khususnya pada pertemuan kali ini membahan tentang manusia sebagai hakikat
yang memiliki potensi dan potensi ini tidak terbatas, banyak potensi yang
dimiliki oleh manusia dan tugas manusia adalah mengembangkan potensi sesuai
ruang dan waktunya. Spiritual sebagai landasan berfilsafat merupak sebagai
pedoman dan pijakan agar menusia tidak lepas kendali dalam mengembangkan
potensinya, karena sesunggunya dengan tidak adanya spiritual yang ditandai
dengan keimanan maka manusia berfilsafat dengan kekacuan hati yang pada
pertemuan pertama dijelaskan beliau sebagai godaan dari syaitan.
Dengan
memberlajari filsafat dari pertemuan pertama dan pertemuan kelima ini
menyadarkan kami bahwa landasan spiritual yang dilakukan dengan beriman adlah
hal yang sangat penting. Selain itu, manusia meluangkan waktu bermuhasabah
untuk memikirkan apa dirinya siapa dirinya dan berbagai pertanyaan yang telah
disampaikan Prof.Dr Marsigit, M.A guna sebagai bahan evaluasi diri untuk
menjadi manusia berakhlaq karimah dan dapat bermanfaat bagi makhluk Tuhan
lainnya. Ketika hubungan manusia baik dengan Tuhannya maka InyaAllah, Tuhan
akan memberikan hal yang terbaik bagi hambanya. Terima Kasih
Wasalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.
0 komentar:
Posting Komentar